News Update :

Catatan Harian Anne Frank, 'Holocaust', dan Kontroversi Sejarah

Jumat, 21 Oktober 2011

"Saya harus yakin diari ini tak jatuh ke tangan orang lain..." "...Seberapa cocok hubungan ibu dan ayah?...Perkawinan mereka bukan perkawinan ideal.... Ayah tidak mencintai ibu. Dia mencium ibu seperti dia mencium kita (anak-anak). Dia kadang menatap ibu dengan pandangan menggoda atau sebal, tapi bukan dengan pandangan cinta. Sebaliknya terasa ibu mencintai ayah karena tidak ada orang lain yang dia kasihi.... Sangat sulit melihat jenis cinta yang saling tak berbalasan antarmereka..."



Demikian tutur Anne Frank dari kamar persembunyian yang lembap, suatu sore pada tahun 1942. Yang pertama adalah sebuah kalimat yang menyatakan bahwa catatan hariannya amat pribadi, tertutup untuk orang lain. Yang kedua adalah kisah tentang hubungan dingin kedua orang tuanya. Suasana ketegangan, ketakutan, kebosanan dalam persembunyian keduanya ternyata tak kunjung mendekatkan kedua orang tuanya untuk menjadi lebih mesra. Selama 50 tahun semenjak catatan harian Anne terbit pertama kali pada tahun 1947, "rahasia" itu tertutup rapat. Publik baru mengetahui dua tahun silam ketika petilan kalimat tersebut muncul dalam koran Belanda, Het Parool. Maka, petikan lembaran harian yang "hilang" itu segera mengundang kontroversi.

Kisah Anne Frank, gadis kecil yang tewas akibat holocaust, adalah tragedi xenophobia. Sekeluarga keturunan Yahudi menyembunyikan diri di sebuah gudang dari kejaran dan penggerebekan tentara Jerman, tapi seseorang mengkhianati mereka. Di kamp konsentrasi kemudian hanya Otto Frank, sang ayah, yang selamat. Anne Frank dan kakak perempuannya, Margot, tewas tergerogoti tifus di kamp konsentrasi Bergen-Belsen. Ibunya, Edith Frank Hollander, mati di kamp konsentrasi Auschwitz. Namun, berkat renungan-renungannya, nama Anne Frank tetap tertoreh abadi.

Setelah keluar dari kamp konsentrasi, Otto Frank tak menyangka manuskrip catatan harian anaknya terselamatkan. Tahun 1947, ia menerbitkannya. Sambutannya luar biasa lantaran isinya yang mengharukan dan menggugah kemanusiaan. Hollywood mengangkatnya ke layar perak tahun 1954. Catatan harian itu sendiri menjadi diari paling terkenal di dunia. Melissa Gilbert pernah memerankannya di layar perak. Petilan di atas adalah bagian dari dua catatan (semuanya lima lembar halaman) yang selama ini tak pernah diketahui. Kemunculannya tentu saja menghebohkan. Dari segi hak cipta saja sudah mengundang perdebatan.

Segera setelah memuatnya, Het Parool mendapat ancaman pengadilan dari Yayasan Anne Frank. Het Parool memperoleh "sisa catatan harian" itu dari Cornelius Suijk, 77 tahun, Direktur Internasional Anne Frank Center di Manhattan, sahabat Otto Frank. Ternyata, sebelum Otto Frank meninggal pada usia 91 tahun di tahun 1980, ia menyerahkan lima halaman manuskrip yang sengaja tak disertakannya ketika ia menerbitkan catatan harian anaknya. Kepada Suijk, Otto berpesan bahwa bila Fritzi, istri keduanya yang dinikahi pada tahun 1953, sudah meninggal, Suijk boleh menyebarluaskan sisa lima halaman catatan harian Anne. Saat dipublikasikan di Het Parool pada 1999 itu, Fritzi baru saja meninggal dunia.

Suijk mengklaim bahwa berkas itu miliknya yang sah, tapi Netherlands State Institute of Documentation for War(NSIDW) menuding bahwa kepemilikan Suijk ilegal. Ia tak berhak atas "sisa catatan harian" Anne Frank itu. NSIDW adalah lembaga yang didirikan pada 1945, setelah Belanda terbebas dari Jerman. Lembaga ini bertugas mengumpulkan pelbagai macam arsip tentang Perang Dunia II. Mereka berusaha keras memperoleh naskah Anne Frank yang berada di tangan Suijk, dengan menggunakan pengacara. Konon, Suijk meminta uang US$ 500 ribu, yang kemudian dipandang mengomersialkan catatan.

"Juni 1998, Suijk datang. Kami sendiri sangat terkejut karena kami merasa telah menerbitkan edisi lengkap surat-surat Anne Frank pada 1996," demikian tutur sejarawan David Barnouw, 52 tahun, juru bicara dariNetherlands State Institute, kepada TEMPO. Menurut Barnouw, setelah beberapa kali pihaknya bernegosiasi dengan Suijk, akhirnya mereka bisa mencapai kemufakatan. "Setelah satu tahun negosiasi, akhirnya surat itu dilimpahkan ke kami," kata Barnouw, lega. Sekarang pihak NSIDW telah menerbitkan edisi lengkap catatan harian Anne Frank dengan lima halaman barunya. Sayangnya, edisi tersebut masih terbit dalam bahasa Belanda. Edisi dalam bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia, tentu saja belum terbit.

Seberapa penting fakta baru dari lima lembar catatan yang "hilang" itu? Penulis biografi Anne Frank dari Austria, Melissa Muller, menilai bahwa dengan menyensor lima lembar itu, berarti Otto Frank mengkhianati istri dan anaknya. Otto ternyata mencintai wanita lain sebelum menikah dengan ibu Anne. Itu yang membuat perlakuannya terhadap Edith, istrinya yang terpelajar, begitu kaku, tak romantis, dan penuh kepura-puraan. Saat akan menerbitkan catatan harian anaknya, ia kaget bahwa sang anak mencatat hal itu dalam tulisan-tulisannya. Maka, ia melakukan penyensoran untuk menutupi semuanya itu.

Muller juga memancing diskusi tentang etis-tidaknya Otto Frank menerbitkan catatan harian itu, karena sesungguhnya sang anak tak mau buku ini disentuh oleh siapa pun. Catatan harian adalah dunia pribadi. Menurut Muller, sebetulnya Anne Frank merencanakan catatan hariannya sebagai bahan mentah untuk membuat novel setelah perang usai. Tapi pendapat itu dibantah oleh David Barnouw. "Sebetulnya dua surat itu sama sekali tak mempengaruhi isi surat lainnya. Tidak mungkin Otto Frank memanipulasi surat anaknya. Dia kan bukan mahasiswa sastra," demikian kata Barnouw.



Lepas dari soal "teks baru" itu, kasus ini mengembalikan ingatan bahwa pernah terjadi polemik tentang keautentikan naskah Anne Frank. Itu lantaran dalam "proses perjalanan" catatan harian itu menjadi buku yang diterbitkan, ternyata buku harian itu harus melalui tiga versi. Awalnya adalah ulang tahun Anne ke-13 (12 Juni 1942). Anne diberi kado sebuah buku catatan harian bersampul merah. Saat Nazi, pada Juli 1942, mulai mengadakan pembersihan orang Yahudi, keluarga Frank mulai bersembunyi di rumah bagian belakang (Achterhuis), suatu gudang kosong di belakang kantor Otto Frank di Jalan Prinsengracht 263. Di samping keluarga Frank, beberapa sahabat juga ikut bersembunyi, yakni Herman van Pels, Auguste van Pels, Peter van Pels, dan seorang dokter gigi, Fritz Pfeffer.

Untuk beberapa lama, tak ada yang tahu bahwa mereka bersembunyi di situ, kecuali empat pegawai Frank: Miep Gies, Johannes Kleiman, Victor Kugler, Bep Voskuijl. Mereka dengan setia setiap hari mengirim sayur-sayuran dan bahan makanan. Minggu-minggu pertama dalam persembunyiannya, Anne sulit menulis apa pun di catatan hariannya. Barulah pada akhir September 1942, setelah membaca buku favoritnya, Joop ter Heul karangan Cissy van Maxvalds, yang bentuknya merupakan narasi surat-menyurat, Anne Frank mulai menulis surat imajiner kepada seorang sahabatnya (yang dibayangkan) bernama Kitty. Era ini, tulisan Anne Frank masih sangat anak-anak, penuh lelucon.

Akhir 1942, diari merah itu sudah penuh terisi. Anne terpaksa menulis di buku tulis, buku kas tua, dan lembaran-lembaran kertas kosong. Menginjak tahun 1943, catatan harian Anne lebih bersifat introspektif. Ia mulai mencatat hal-hal di sekeliling, kegiatan rutin sehari-hari. Ia mulai mendeskripsikan harapan-harapan dan kecemasan-kecemasannya. Pada Mei 1944, ia menyalin catatan hariannya itu ke buku lain. Pada titik ini dia rupanya sudah memiliki semacam keinginan bahwa kelak catatan hariannya itu akan menjadi materi sebuah novel atau apa. Penulisan kembali ini penuh revisi.

Ia menghilangkan beberapa yang tak disukainya. Saat melakukan penyuntingan ini, Anne banyak membaca buku-buku biografi yang disuplai secara sembunyi oleh para pembantunya. Setiap Sabtu, Miep Gies membawakan buku dari perpustakaan. "Kami selalu menunggu-nunggu hari Sabtu, seperti anak yang menunggu kado. Orang-orang yang hidup normal tak akan memahami apa arti buku bagi orang yang hidup terkurung. Membaca, mendengarkan radio, adalah hiburan bagi kami semua," demikian ditulis Anne Frank. Tampaknya dalam penyuntingannya Anne ingin membuang hal-hal yang dianggapnya berbau "kencur". Misalnya, di catatan harian yang asli ada tulisannya mengenai menstruasi. Si kecil ini menulis betapa ia merindukan menstruasi pertamanya.

Di bagian lain, ia menulis soal buah dadanya, yang mulai merepotkan dan membuatnya bingung bila tidur malam. Atau, bagaimana ia begitu tergila-gila pada Peter van Pels, remaja putra keluarga Pels. Juga di situ ada cerita-cerita fiksi yang dipersembahkan ke mamanya, misalnya yang berjudul "Guardian Angel". Saat penulisan ulang, itu semua tak diikutsertakan. Ia menghapusnya sendiri. Alhasil, buku harian kedua menampilkan sosok Anne yang independen dari orang tuanya dan Peter van Pels, cowok yang sering dianggap melindunginya. Sayangnya, sebelum semua itu selesai disalin, mereka telah tertangkap.

Tapi saat tentara Nazi mengobrak-abrik tempat persembunyian mereka, sebisanya catatan-catatan harian ini diselamatkan oleh sang pembantu, Miep Gies dan Bep Voskuijl. Tentunya tak bisa semuanya. Beberapa kertas tak sempat dibawa. Semua yang selamat inilah yang diserahkan kepada Otto Frank. Otto Frank menyeleksi naskah-naskah anaknya. Ia menggabungkan buku pertama dengan buku kedua anaknya. Soal menstruasi dan soal buah dada, yang oleh anaknya sendiri disensor di bagian kedua, misalnya, kemudian dimasukkan kembali oleh Otto dalam buku yang akan diterbitkan. Karena itu, para pengkaji catatan harian Anne Frank mengenal ada tiga versi diari Anne.

Bagian pertama, versi asli (buku pertama), lazim oleh sejarawan disebuat Versi A. Bagian kedua, buku yang disalin kembali oleh Anne Frank, disebut Versi B. Dan catatan harian Anne Frank yang dihimpun Otto Frank disebut sebagai Versi C. Akibatnya, lahirlah pelbagai studi serius atas perjalanan teks tulisan dari Versi A ke Versi B ke Versi C. Karenanya, sejak 1950-an timbul polemik atas orisinalitas catatan harian Anne Frank yang tak jarang membawa problem ini ke meja hijau. Seorang guru Jerman bernama L.

Stielau pada tahun 1958, misalnya, menulis bahwa selama ini catatan harian Anne Frank yang kita kenal adalah catatan palsu. Pada 1959, Otto Frank mengajukannya ke pengadilan Lubeck. Pengadilan memenangkan Otto bahwa diari itu asli. Beberapa ekstremis kanan Jerman yang masih terpukau pada Hitler juga berusaha gencar mempropagandakan bahwa buku Anne Frank adalah fiksi semata dan menuduhnya sebagai taktik Yahudi meraih simpati.

Tapi mereka juga tersuruk di pengadilan. Begitu seringnya terjadi polemik atas buku harian ini sehingga The German Criminal Court Laboratory pernah memeriksa jenis kertas dan jenis tinta pada manuskrip asli memoar Anne Frank untuk mengetahui apakah seluruh perangkat itu memang berasal dari masa perang atau tidak. Menanggapi semua itu, Robert Rozett, Direktur Perpustakaan Museum Yad Vashem yang ditemui TEMPO di Yerusalem, Israel, beranggapan bahwa penulisan sejarah memang tidak bisa 100 persen lengkap.

Soal sunting-menyunting yang menghebohkan itu ia anggap wajar. "Kapan pun seseorang menulis, mereka selalu melakukan self editing (penyuntingan sendiri-Red.)," ujar Rozett. "Itu tidak berarti mereka berbohong. Memang benar bahwa beberapa halaman catatan harian Anne Frank tidak diterbitkan sesuai dengan aslinya. Tapi itu tidak berarti isi buku harian itu bohong. Itu semua tidak mengubah cerita utama Anne Frank. Bagaimana pandangan Rozett, misalnya, atas tulisan orang semacam Robert Farisson? Farisson adalah ahli sastra Universitas Lyon yang selama ini dikenal sebagai orang yang paling tidak percaya pada fakta holocaust.

Ia menampik segala info tentang pembunuhan massal Yahudi sebagai sesuatu yang terencana, termasuk novel-novel Ellie Wessel (sudah diterjemahkan di Indonesia menjadi Malam dan Fajar), yang disanggahnya habis-habisan. Ia menyimpulkan bahwa catatan harian Anne Frank merupakan "cock-and-bull story" alias cerita yang banyak ngecapnya. Untuk mendukung tesisnya ini ia sampai mewawancarai Otto Frank beserta bekas pembantu-pembantunya yang masih hidup.

Farisson, dalam makalahnya yang nyinyir berjudul Is the Diary of Anne Frank Genuine?, secara teliti membeberkan kontradiksi-kontradiksi internal dalam teks Anne Frank. Baginya, amat tak masuk akal keluarga Frank dapat bersembunyi di belakang rumah Prinsengracht 263 selama 25 bulan tanpa sama sekali diketahui oleh tetangga. Misalnya, ia banyak melihat kejanggalan-kejanggalan yang berhubungan dengan suara. Di suatu bagian, misalnya, Anne menulis bahwa dinding-dinding terlalu tipis sehingga bila batuk pun keluarganya harus berhati-hati agar tidak ketahuan orang.

Tapi, di bagian lain, Anne menulis bahwa di dalam persembunyian itu Nyonya Van Daan (panggilan Anne untuk Augeste van Pels) memiliki kebiasaan di siang hari membersihkan lantai dengan vacuum cleaner. Ini sangat mustahil karena vacuum cleaner kala itu amat keras bunyinya. "Juga, bagaimana mungkin suara radio yang selalu didengar keluarga tak mencurigakan orang?" demikian tanya Farisson. Banyak hal-hal kecil lain yang disoroti Farisson. Misalnya, bagaimana saat rumah Prinsengracht 263 mau dibeli.

Sang pembeli memeriksa seluruh bagian rumah di depan, tapi ia sama sekali tidak mau ke bagian belakang. "Itu tak masuk akal," katanya. Lalu, bagaimana keluarga itu dipasok makanan oleh pembantu-pembantunya dari luar? Bila masak juga ada asap yang keluar dari atap rumah. Sungguh mustahil jika penduduk sekitarnya tak curiga. Farisson mengaku sempat mewawancarai Miep Gies. Dan menurut dia, jawaban-jawaban Gies meragukan. Wanita tua itu sama sekali tak terlihat bahwa selama dua tahun peristiwa itu ia berada daerah itu.

Menurut Farisson, ia sama sekali tidak tahu detail ruang persembunyian keluarga Frank. Padahal, dalam catatan hariannya, Anne selalu menyebut keakraban Gies dengan keluarganya. Otto Frank sendiri ketika ditanya Farisson menjawab, seperti penulis catatan harian lain, anaknya mungkin berlebih-lebihan dalam satu hal, tetapi "berlebihannya" itu tentu secara umum. Reputasi Farisson sendiri di mata para ahli holocaust diragukan.

"Dia dianggap tidak serius oleh kalangan ahli. Selalu ada ruang untuk sebuah diskusi akademik. Tetapi Farisson jauh di luar batas dari semua hal akademik yang serius," komentar Rozett kepada TEMPO. David Barnouw menyetujui pendapat itu. Bila di sana-sini di catatan harian Anne Frank ada kontradiksi, itu sudah seperti watak anak gadis kecil mana pun yang tentu memiliki mood mudah berubah-maklum, usia 13 tahun adalah usia pubertas. Barnouw juga tak yakin tentang klaim Farisson yang mengaku sudah melakukan studi interteks antara naskah-naskah Anne.

"Farisson tidak bisa berbahasa Belanda. Soal ia menyebut banyak suara ribut-ribut dari tempat persembunyian Anne, sesungguhnya yang ribut adalah Westertoten, gereja di dekat persembunyian," kata David Barnouw. Bagaimanapun, si kecil Anne Frank sudah pergi. Dalam kesakitan, dalam penderitaan. Dan ada ratusan anak kecil yang bernasib seperti Anne Frank. Di Museum Yad Vashem, Israel, bisa dilihat data-data untuk itu (lihat: Kisah Anak-Anak dalam Gelap). Itu bukti kekejaman yang tak bisa dibantah lagi. Menyembunyikan fakta holocaust, seperti Robert Farisson, merupakan pembohongan.

"Orang bisa melihat dengan sudut pandang yang berbeda-beda atas Anne Frank. Tapi Anne Frank, bagaimanapun, adalah simbol diskriminasi hak asasi manusia," kata Geeskelien Wolters, Direktur Erasmus Huis Jakarta. Di surga, Anne Frank mungkin menggenggam catatan hariannya sambil masih meneteskan air mata karena xenophobia dan rasialisme belum luntur bahkan sampai kini. Di mana-mana di belahan bumi, juga di Indonesia. Karena itu, kisah pedih Anne Frank adalah sejarah untuk masa kini.



Source:
Share this Article on :

0 komentar:

Poskan Komentar

 

© Copyright sekedar info 2010 -2011 | Design by parazitz | Published by bendoxz | Powered by Blogger.com.