News Update :

Kata Nasir Abbas, Bom Solo Cuma Butuh Rp 200 Ribu

Rabu, 05 Oktober 2011


Nasir Abbas.

MantanKetua Mantiqi III Jamaah Islamiyah, Nasir Abbas, menuturkan bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Tegal Harjo, Jebres, Solo, Jawa Tengah, hanya membutuhkan dana kecil. "Rp 200 ribu saja bisa," katanya seusai acara tanda tangan kafan terpanjang di restoran Papa Ron's Pizza, Jakarta, Rabu, 28 September 2011.

Menurut Nasir, angka tersebut dihitung dari perkiraan bahan peledak dengan daya ledak yang menguncang gereja di Solo pada 25 September 2011. Saat ini, kata Abbas, pola teror bom memang tidak melalui jaringan besar. Dengan membentuk kelompok-kelompok kecil saja, bom bisa dibuat dengan dana patungan antar anggota. "Tidak butuh biaya besar, bisa dari patungan saja," ujar Nasir.

Pelakunya, kata Nasir, bukan dari kelompok terorganisasi. Melainkan beberapa orang yang bertindak berdasarkan emosi. "Aksi peledakan rumah ibadat umat lain adalah aksi emosi," ujar Nasir.

Pengeboman gereja di Solo mirip dengan aksi bom gereja tahun 2000. Aksi menjelang Natal tahun 2000 yang digerakkan oleh Hambali tersebut mempunyai tujuan adu domba. "Tujuannya dia ingin memindahkan konflik ambon jadi nasional," kata Nasir.

Untungnya, masyarakat di daerah yang terkena bom Natal 2000 tidak terpancing. "Kalau iya, bisa terjadi konflik SARA di mana-mana," papar pria asal Malaysia ini.

Maka apa yang terjadi di Solo, Nasir berharap juga diharapkan bisa jadi pencerdasan masyarakat. Bahwa tidak ada untungnya terpancing dengan kerusuhan dan harus menolak segala kekerasan.

Target Solo, Semarang, dan Surabaya, seperti yang diramalkan oleh Kementerian Luar Negeri Inggris, menurut Nasir, tidak bisa digeneralisasi. Memang pemerintah Inggris menganalisis berdasarkan pengalaman sebelumnya karena pelaku teroris rata-rata berasal dari tiga kota tersebut.

Tapi, lanjut Nasir, kalau kota tersebut diketatkan pengawasannya justru akan berpotensi menimbulkan sifat-sifat radikal baru. "Apalagi masyarakat membuat penolakan kepada teroris yang sudah bebas, ini masalahnya," ucap Nasir.

Kalau masyarakat sudah terdoktrin untuk menolak mantan narapidana teroris, maka teroris justru akan kembali meneror karena tidak ada yang menerimanya. "Tapi ini masih perlu kajian lagi," Nasir mengingatkan.




































Source:
Share this Article on :

0 komentar:

Poskan Komentar

 

© Copyright sekedar info 2010 -2011 | Design by parazitz | Published by bendoxz | Powered by Blogger.com.